Selasa, 18 Oktober 2011

Pembelajaran Kontekstual




A. Model Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Model Pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, istilah-istilah tersebut adalah: a) model pembelajaran, b) strategi pembelajaran, c) metode pembelajaran; d) teknik pembelajaran; e). taktik pembelajaran; dan f) pendekatan pembelajaran.
“Model belajar mengajar adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melakukan aktivitas pembelajaran”. Kegiatan belajar yang telah dirancang dan dilaksanakan dengan penuh keahlian guru dapat menghasilkan suasana dan proses pembelajaran yang efektif.
“Pembelajaran adalah bimbingan kepada siswa yang mengalami proses belajar.” Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukan jalan dengan memperhatikan kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan kepada siswa, daripada teori yang lain. Hal ini terjadi disekolah-sekolah.
“Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dan mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melakukan aktivitas pembelajaran. Kedudukan dan fungsi pembelajaran yang strategis adanya kerangka konseptual yang mendasar. Dalam suatu model pembelajaran ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, akan tetapi menyangkut tahapan- tahapan, sistem sosial yang diharapkan, prinsip-prinsip reaksi guru dan siswa serta sistem penunjang yang diisyaratkan.

2. Peranan Model Pembelajaran
Kedudukan dan fungsi pembelajaran yang strategis adanya kerangka konseptual yang mendasar. Dalam suatu model pembelajaran ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, akan tetapi menyangkut tahapan-tahapan, sistem sosial yang diharapkan, prinsip-prinsip reaksi guru dan siswa serta sistem penunjang yang diisyaratkan.Untuk memperjelas uraian di atas, dapat dilihat pada gambar 4.









Gambar 4
Model Pembelajaran

Terjadinya proses pembelajaran, oleh siapapun proses itu diorganisasikan dan dikelola akan bertolak dari kerangka dasar tersebut. Artinya suatu model dalam proses pembelajaran sangatlah berperan penting untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran itu sendiri. Model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran hendaknya ditujukan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang bermanfaat dimasa yang akan datang dan dapat mencetak siswa yang berkualitas dengan memiliki keterampilan dan daya kreativitas yang tinggi.
Pembelajaran sebagai suatu sistem yang melibatkan komponen-komponen pembelajaran yang meliputi tujuan, subyek belajar, materi pelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran, dan penunjang merupakan suatu kesatuan yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai tujuan pembelajaran. “Pembelajaran merupakan salah satu wujud kegiatan pendidikan di sekolah. Kegiatan pendidikan di sekolah berfungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa agar tumbuh kearah positif”. Maka cara belajar subyek belajar di sekolah diarahkan dan tidak dibiarkan berlangsung sembarangan tanpa tujuan. Melalui sistem pembelajaran di sekolah, siswa melakukan kegiatan belajar dengan tujuan akan terjadi perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
“Peristiwa pembelajaran adalah suatu kegiatan interaktif yang mengarah pada suatu kegiatan interaktif yang mengarah pada tercapainya tujuan pembelajaran.” Karena itulah diperlukan adanya strategi agar tujuan tersebut dapat tercapai dengan optimal. Strategi dapat dikatakan sebagai pola umum yang berisi tentang rentetan kegiatan yang dijadikan pedoman agar kompetensi sebagai tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Pola atau cara yang diterapkan sebagai hasil dari kajian strategi itu dalam proses pembelajaran dinamakan metode pembelajaran. Dengan demikian metode berangkat dari suatu strategi tertentu. Sedangkan cara untuk menjalankan metode yang diterapkan itu dinamakan teknik atau taktik, sifatnya lebih praktis yang disusun untuk menjalankan suatu metode dan strategi tertentu. Di samping istilah strategi, metode dan teknik dalam pembelajaran ada juga istilah lain yang dinamakan model pembelajaran.
Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Denne R dan Wraagg “...model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dan mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melakukan aktivitas pembelajaran.”

3. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan model baru yang membawa siswa kepada dunia nyata dalam pembelajaran. Pembelajaran kontekstual berangkat dari pemahaman bahwa pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, namun pengetahuan itu harus dikonstruksi dan diberi makna melalui pengalaman.
Pembelajaran kontekstual berasal dari istilah contextual teaching and learning. Dalam bahasa latin kata con berarti (with) dan textum berarti (moment). Contextual yang berarti mengikuti keadaan, situasi dan kejadian, oleh karena itu kaidah contextual merupakan suatu yang dibentuk dengan dasar maksud dari pembelajaran itu sendiri yang relevan bagi siswa, dan memberi makna dalam kehidupan sehari-hari.
Zahorik menyatakan bahwa elemen yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual adalah :
a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (Activiting knowledge).
b. Penemuan pengatahuan baru (Acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dahulu, kemudian memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan (Understanding knowledge) yang dengan cara menyusun konsep sementara hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain atau teman agar mendapat tanggapan dan atas dasar tanggapan itu konsepnya direvisi dan dikembangkan.
d. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (Applaying knowledge).
e. Melakukan refleksi (reflection knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
Dunne R & Wraag.T menjelaskan bahwa strategi belajar dalam kaitannya dengan penggunaan fakta dan keterampilan dalam pembelajaran, harus didemonstrasikan dalam konteks.
Penggunaan fakta dan keterampilan dalam pembelajaran dapat dilaksanakan disamping dengan mendemonstrasikan dalam konteksnya, tetapi juga sambil bekerja sendiri menemukan secara pribadi karena pada hakikatnya siswa itu pribadi yang tidak sama, sehingga dengan bekerja tersebut akan menemukan tentang jati dirinya atau kepribadiannya.
Secara psikologis Pestalozi dan kawan-kawanya yang dinyatakan juga oleh Faisal menyatakan bahwa: Penemuan cara belajar dan mengajar yang efektif dan efesien, sebagai titik tekan yang berhubungan dengan belajar anak, dimana anak adalah pribadi, bukan semuanya sama. Dalam proses pembelajaran anak belajar sambil bekerja (learning by doing).
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan. Materi yang disampaikan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan implementasinya atau penerapannya dalam kehidupan mereka.
Sugandi mendefinisikan Pembelajaran kontekstual “....merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenarnya.

Konteks artinya kondisi lingkungan, yaitu keadaan atau kejadian yang membentuk lingkungan dari sebuah hal. Ringkasnya konteks adalah lingkungan. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenarnya.
Blanchard, Berns dan Erckson, mengemukakan bahwa: “Contextual teaching and learning is a conception of teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real world situation; and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers and engage in the hard work that learning requires”.

Dengan demikian pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerja.
Pembelajaran kontekstual adalah proses pembelajaran yang menghubungkan isi pelajaran dengan lingkungan. Dalam pembelajaran tradisional isi dipelajari secara terpisah, tersendiri. Dalam pembelajaran kontekstual, isi pelajaran dihubungkan dengan lingkungan fisik, personal, sosial, dan budaya.
Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Kubi dalam Dody Hermana mendefinsikan “…kontekstual (contextual) yang berasal dari kata context berarti hubungan, konteks, (konteks) suasana dan keadaan ". Sehingga Contextuat Teaching Learning (CTL) pembelajaran yang dapat diartikan sebagai suatu berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum kontekstual berarti yang berkenaan, relevan, adanya hubungan atau keterkaitan langsung, atau yang bermakna.
Pembelajaran kontekstual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dihubungkan dengan menerapkan dalam kehidupan mereka, pada kompetensi haji dan umroh dilaksanakan manasik haji.
“Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning ) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari”.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
“Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru mengadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat”.
Model pembelajaran kontekstual menghadapkan siswa dengan dunia nyata (real world) di mana mereka berada. Sehingga materi-materi yang mereka pelajari bukan hanya menjadi bayangan dalam pikiran mereka. Siswa dalam kelas kontekstual akan mengalami sendiri kegiatan belajar dan kaitannya dengan apa yang mereka pelajari. Siswa diajak untuk berpikir, bukan sekedar menerima apa kata guru. Siswa menjadi subjek dalam kelas kontekstual, artinya pusat dari proses pembelajaran adalah siswa sehingga harus aktif, kritis dan kreatif menemukan sendiri pengetahuan dan pengalaman baru yang akan memberikan manfaat bagi mereka. Siswa duduk manis mendengarkan ceramah guru tidak berlaku dalam kelas kontekstual.
Model pembelajaran kontekstual memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan lain. Dalam pembelajaran kontekstual ada kerjasama antar siswa, antara siswa dengan guru sebagai fasilitator dan motivator. Karakteristik yang kedua yaitu saling menunjang dalam kegiatan pembelajaran, menyenangkan dan tidak membosankan sehingga siswa lebih bergairah dalam belajar. Kelas kontekstual juga merupakan kelas yang terintegrasi, materi pembelajaran menggunakan berbagai sumber bukan satu sumber saja.
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak ”mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ”mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali dan memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran kontekstual dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dikemukakan oleh Nurhadi & Agus Gerrad Senduk sebagai berikut:
a. “Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku tes akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan, dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat .
b. Penerapan konteks personal, konteks ekonomi, konteks politik dapat meningkatkan ketrampilan komunikasi, kesejahteraan sosial, dan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat.”

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual pada dasarnya mudah, dan dapat disajikan pada materi apa saja. Maka pada intinya model pembelajaran kontekstual membawa siswa untuk aktif dan kreatif, sementara guru sebagai fasilitator dan pembimbing dalam pembelajaran, sehingga siswa dapat menemukan sendiri makna informasi yang diterima. Makna-makna itulah yang menjadi pengetahuan yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa pada saat itu dan dapat diterapkan dalam hubungan dengan sesama manusia atau masyarakat dan kebudayaannya.
Program pengembangan model pembelajaran universitas Geogia selama tiga tahun termasuk pengembangan model baru yang direvisi dari model yang lama, antara lain :
Pre-professional courses : Two existing required courses for teacher education in educational psikology (Learning dan Development in Education) and educational fondations (Social Foundation of Education) were revised to include contextual teaching and learning principles and aplications.
Community work experiences : Academic service learning on existing electif couse involving service projects in various community agencies was redesigned to include structured field projects in bussiness, government and other professional work settings.
Another existing elective couse. Internship in Bussines and industry, was offerd to students interested in compliting an extensive enternship in the private, corporate sector. In addition, students were involved in other classes or siminars with business of community short term intern ships, tours field trips, interviews, focus groups, and other non school contexts to help them connect knowledge with real-woeld applications.

Model pembelajaran kontekstual telah diuji cobakan di Universitas Georgia selama tiga tahun dan telah mengalami beberapa kali perbaikan dan penyempurnaan demi kelancaran model tersebut untuk dunia pembelajaran. Dua pelatihan yang telah direvisi yang berkaitan dengan aplikasi dan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran.
Pelatihan-pelatihan pada lembaga sekolah termasuk pada yayasan pendidikan yang didesain ulang untuk menangani bebarapa bidang baik proyek bisnis, pendidikan dan lainnya, yang ditawarkan kepada siswa-siswa yang tertarik pada sektor swasta, sehingga diharapkan siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman di dunia nyata. Tujuan utama program kontekstual agar mempunyai pengalaman di lapangan yang terkait dengan pendidikan.
Sehubungan dengan itu pembelajaran kontekstual diturunkan ke dalam beberapa strategi pembelajaran.
“Ditjen Dikdasmen mengelompokkan 7 strategi pembelajaran kontekstual, yaitu: (1) belajar berbasis masalah (problem-based learning), (2) pengajaran autentik (authentic instruction), (3) belajar berhasis inquiri (linquiry-based learning;), (4) belajar berbasis proyek/tugas terstruktur (project-based learning), (5) belajar berbasis kerja (work-based learning), (6) belajar jasa layanan (service learning), (7) belajar kooperatif (cooperative learning)”.

Hal ini sejalan dengan lima strategi yang dikemukakan Bern dan Erickson dalam Dharma Kesuma ada lima strategi pembelajaran, yaitu: “....(1) pernbeiajaran berbasis masalah (problem-based learning), (2) pembelajaran kooperatif (cooperative learning), (3) pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), (4) Pembelajaran pelayanan (service learning), dan (5) pembelajaran berbasis kerja (work-based learning)”.
Dari berbagai model pembelajaran kontekstual yang dikemukakan oleh Bern dan Erickson serta Depdiknas, maka peneliti merangkumnya ke dalam beberapa strategi pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran, yaitu pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran pelayanan, pembelajaran berbasis kerja, ditambah dengan pembelajaran nilai. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar